Rabu, Januari 23, 2013

Kepada Kamu, Aquarius
#30HariMenulisSuratCinta
Hari ke #10

Terimaksih banyak untuk kamu yang masih tetap berusaha menanti . . .

Untuk kamu yang masih bersikukuh melipat tangan dan egoisme yang menari-nari dalam fikiranmu
Aku mencerna pesan terakhir yang kau berikan 4 tahun lalu
Aku meresap melalu jajaran aksara
Aku mengecap tiap untai baris sampai di titik terakhir kalimatmu
Dan aku memutuskan, aku harus pergi

Bukan karena hati, tapi karena keadaan. . .
Karena sifatmu. . .
Karena kesamaan kita

Bukankah dalam hubungan lebih memerlukan perbedaan?
Seperti magnet, kutub negatif bertemu dengan negatif akan saling menolak
dan apabila kutub positif bertemu dengan kutub negatif mereka akan saling berdekatan

Kamu pahamkan apa yang aku maksud?
Baiklah mari diperjelas

Kamu seorang Aquarius yang punya obsesi, jiwa pemimpin dan kemampuan menonjolkan diri yang besar
Sedangkan aku seorang Cancer yang juga memiliki obsesi yang tinggi, selalu ingin menonjol, selalu ingin dipuja, selalu ingin berkuasa dan memiliki egoisme yang tinggi.
Kita itu sama . . .
Jadi aku membutuhkan orang yang bisa lebih sabar dariku, orang yang bisa menghargai aku, bukan sebagai wanita lemah atau wanita manja, tapi menganggapku sebagai wanita perkasa.
Dan aku rasa, kamu juga membutuhkan gadis yang lemah lembut, patuh dan penurut, serta pendiam dan anggun.



Aku benci ke-egoisanmu
Aku benci ketika berhadapan denganmu
Aku benci membiarkanmu berbicara panjang lebar tanpa memberiku kesempatan
Aku benci kehebatanmu
Dan sampai sekarang aku benci kamu. . ..


Sebelum terlambat, sebelum hatimu membusuk, bergeraklah !
Cari di mana tulang rusukmu berada

Aku takkan pernah kembali kepadamu . . .
Takkan pernah . . .
Sampai tua pun kau menanti semua akan sia-sia



Minggu, Januari 20, 2013

Untuk sang pemilik sangkar hati di Jogjakarta
Proyek #30harimenulis surat cinta sudah berjalan 6 hari lalu, tapi biarlah aku akan memulainya di hari ke tujuh ini

Untuk pemilik sangkar hati di Jogjakarta

Selamat pagi kamu
Jogjakarta kalau pagi udaranya bagaimana? hah ingin rasanya aku menginjakkan kaki di sana, melihat kota tempat kamu dan sahabat-sahabatku menuntut ilmu, kota yang katanya penuh seni dan cinta, tapi apa dayaku?

Kamu tahu sakitnya diingkari? pasti tahu, karna aku pernah mengikarimu, dulu . . .

Mungkin kamu terlalu sibuk dengan kota barumu,  sehingga tak ada lagi sedikit waktu untukku, kamu sibuk dengan acara wisuda universitasmu, kamu sibuk dengan UAS mu, kamu sibuk rapat ini itu, kamu tidak punya pulsa, kamu. . . yah dengan semua alasanmu, lalu kapan waktu untukku?

Aku tidak minta banyak sayang, aku hanya ingin kamu ingat dengan merpatimu yang masih kau biarkan dalam sangkar di rumah lamamu. . .

Menunggu dengan risau dan kesedihan, menunggu janji palsu yang kau utarakan, menunggu hal yang sebenarnya tidak mampu kau lakukan . . .
Sangat menyakitkan. . .

Tahukah kamu tidak mudah bagiku untuk mencari lelaki lain, banyak memang sangat banyak yang memujaku, tapi. . . kamu sudah terlanjur mengurungku dalam sangkarmu, aku mampu apa? hanya berkicau di dalam kurungan, menunggu sang pemilik sangkar sampai ia bermain bersamaku di dalam sini, bersiul-siul dan menggodaku, lalu mengelus-elus kepalaku, ya aku persis seperti merpati di dalam sangkar.

Aku kecewa, sangat kecewa
Kecewa telah mencintai kamu dengan perasaan
Seharusnya perasaan ini tetap seperti dulu, mencintai dengan logika
Sehingga aku tak perlu susah payah untuk merindukanmu, menangisimu, dan kehilangan dirimu
Seharusnya aku bersenang-senang di sini
Seharusnya aku mampu mencari laki-laki lain yang dapat memberikan seluruh waktunya untukku
Seharusnya . . .
Ya seharusnya . . .

Aku hanya meminta, buka kunci sangkar ini ! biarkan merpati ini lepas
Jika kau sudah tidak mampu merawatnya lagi . . .